yono teater sendiri

Avatar
Yono
Lihat Bio Penulis
5 Pembaca

Di lengkung langit yang mulai sepuh, malam melipat sisa-sisa jingga dengan jemari yang teramat pelan. Ada aroma tanah basah yang menguar, membawa serta ingatan-ingatan yang sengaja kita kubur di balik lipatan hari kemarin. Aksara demi aksara mulai menetas dari rahim kesunyian, merayap di dinding kamar yang dingin, mencari jalan pulang menuju selembar kertas yang masih suci dari noda tinta. Kita adalah dua orang asing yang terjebak dalam sebuah labirin paragraf yang tak kunjung menemukan tanda titik. Di antara spasi yang renggang dan tanda baca yang bimbang, kita terus mengeja arti kehadiran tanpa pernah benar-benar memahami mengapa takdir gemar bercanda dengan waktu.

Kadang kala, rindu menjelma menjadi sekumpulan kata sifat yang berlebihan. Ia bersembunyi di sela-sela majas metafora, berpura-pura menjadi angin malam yang mengetuk jendela, atau menjadi bayang-bayang lampu jalan yang memanjang di atas aspal basah. Kau tahu, di sinilah keindahan dari ketidakpastian itu bermula. Di tempat di mana teks pengisi ini berdiri, menggantikan riuh rendah dunia dengan monolog interior yang tak berkesudahan. Kita tidak sedang membicarakan masa lalu, bukan pula meramal masa depan yang masih berupa kabut tebal di ujung saujana. Kita hanya sedang merawat kekosongan, memberi ruang bagi imajinasi untuk berdansa bebas sebelum realita datang mengetuk pintu dengan ketukan yang teramat keras.

Baca Juga

yono teater orang lain

Biarkan kalimat-kalimat ini mengalir seperti sungai yang kehilangan hulunya, berkelok-kelok menembus hutan sunyi dan tebing kepasrahan. Ketika lembar ini dibaca, biarkan maknanya menguap bersama udara, menyisakan rasa hangat yang samar di dada. Sebab pada akhirnya, setiap cerita akan menemukan cara untuk selesai, entah dengan kebahagiaan yang megah atau kesunyian yang paling purba. Teks ini adalah saksi bisu bagi sepasang mata yang menatap layar dengan penuh tanya, mencari arti di balik susunan kata yang sengaja diciptakan untuk merayakan keindahan yang fana. Maka di sinilah, pada batas tipis antara ada dan tiada, kita membiarkan diri hanyut dan binasa dalam pelukan pesona hamparan kata.

Dokumen Naskah Tersedia

Download File Naskah
× Avatar

Nama Penulis

Kontributor

Biografi penulis belum tersedia.